Rabu, 04 Januari 2017

retort pouch

Definisi retort pouch

Retort pouch adalah kemasan fleksibel berbentuk pouch atau kantong yang digunakan untuk mengemas pangan siap santap atau MRE (Meal Ready to Eat). Retort pouch dibuat dari laminasi aluminium foil dan polimer, tahan terhadap proses sterilisasi, dan seperti halnya kaleng logam, dapat disimpan selama bertahun-tahun pada suhu ruang.
Perbedaan proses retort kaleng logam dengan retort pouch
Proses retort dilakukan pada suhu di atas 250o F (121o C), baik untuk kaleng logam maupun kemasan fleksibel. Alat yang digunakan untuk keperluan ini dinamakan retort chamber. Selama mengalami proses retort, terjadi pemanasan pada pangan, termasuk kemasannya.
Semua benda akan memuai bila dipanaskan, termasuk retort pouch dan kaleng logam serta makanan, kuah dan udara (head space) di dalamnya. Untuk mengimbangi pemuaian ini, diperlukan tekanan dari luar wadah supaya wadah tersebut tidak meledak. Tekanan ini dinamakan external pressure. Dengan adanya external pressure ini, walaupun wadah tetap memuai di dalam retort chamber namun pemuaian ini masih di bawah elongation pointnya, sehingga setelah proses pendinginan wadah akan kembali ke bentuk aslinya lagi.
Karena kaleng logam secara fisik lebih kaku dan kokoh, external pressure yang diperlukan hanya sekitar 205 kPa, sedangkan untuk retort pouch perlu external pressure 274 – 308 kPa guna mencegah pouch pecah atau seal terbuka. Oleh karena itu, retort chamber yang biasanya digunakan untuk proses retort kaleng belum tentu dapat digunakan untuk proses retort kemasan fleksibel.

taken from : Budi Sampurno article.

Sjarah Retort

Dalam Perang Dunia II, Institut Fraunhofer di Muenchen, Jerman, menerima permintaan dari Angkatan Perang Jerman untuk mengembangkan suatu kemasan yang ‘convenient’ untuk pangan yang enak, bergizi dan siap makan. Pada saat itu, tentara Jerman mendapat jatah makanan berupa sosis yang diawetkan, serta roti kering dan sayuran yang dikeringkan, yang dibentuk menjadi persegi empat dan dibungkus dalam aluminium foil atau cellophane. Kemasan yang didapat pada saat itu adalah suatu kemasan dengan bentuk sedemikian, sehingga luas permukaan sebesar mungkin dibandingkan volumenya, dengan bahan: Cellophane/Alu foil/poliofilm. Secara teknis penemuan ini bisa dipakai, tetapi pada prakteknya tidak berhasil diproduksi secara massal. Hal ini disebabkan karena investasi pada sistem kemasan kaleng sudah sedemikian besar sehingga tidak mungkin untuk menggantikan kaleng dengan retort pouch begitu saja,
Pada tahun 1960an Reynolds Metal Co mengembangkan retort pouch dengan spesifikasi: PET/Al foil/CPP untuk mengemas kacang polong dan wortel, sauerkraut dan semur daging. Spesifikasi ini tidak banyak berubah sampai saat ini, dan perkembangan retort pouch dari segi komersial dari tahun 1960an sampai sekarang juga tidak terlalu berarti.

Kendala yang menghambat perkembangan retort pouch selama 50 tahun ini disebabkan karena perusahaan pangan sudah menginvestasikan uang yang sangat besar untuk pangan dalam kemasan kaleng logam, dengan kecepatan dan efisiensi sedemikian tinggi sehingga sukar untuk menggantikannya dengan mesin untuk pouch. Oleh karena itu sampai saat ini, mayoritas kemasan pangan retort masih berupa kaleng logam.
Walaupun demikian ada satu segmen di sejumlah negara yang tetap menggunakan retort pouch selama ini, yaitu kalangan tentara.
Keunggulan retort pouch dibandingkan kaleng logam
Waktu memasak lebih pendek sehingga tekstur pangan terasa lebih alami dan nilai gizi lebih baik.
Lebih tipis sehingga lebih mudah dibawa dalam ransel.
Lebih ringan sehingga bisa menghemat tenaga, terutama kalau dipanggul di dalam ransel tentara.
Lebih fleksibel sehingga tidak mudah penyok terkena benturan.
Bentuknya yang tipis juga memberi keuntungan lain dalam proses sterilisasinya.
Pada pabrik pangan, kantong/pouch diisi dengan makanan, di heat seal lalu dipanaskan/retort untuk sterilisasi. Karena retort pouch ini tipis, lebih sedikit waktu yang diperlukan untuk memanaskan isinya hingga mencapai kondisi steril. Oleh karena itu, rasanya lebih enak (terutama untuk makanan yang lunak).
Seperti halnya kaleng, masa penyimpanan retort pouch dipengaruhi suhu penyimpanannya. Di daerah beriklim panas (di atas 40oC): 6 bulan. Suhu ruang (25 -30oC): 3 tahun. Di lemari pendingin: 5 tahun
taken from : budi S article.

Sumber :kemasan.net

Kemasan

Prinsip Prinsip Desain Kemasan

Dalam desain kemasan, prinsip prinsip desain disesuaikan untuk memenuhi tujuan setiap tugas-tugas desain.  panduan ini membantu mendefinisikan bagaimana warna, tipografi, struktur dan citra diaplikasikan dalam suatu tataletak desain untuk menciptakan kesan keseimbangan, intensitas, proporsi dan penampilan yang tepat.  inilah yang membuat elemn-elemen desain membentuk atribut komunikatif suatu desain kemasan.
Ada banyak variable yang mempengaruhi bagaimana dan mengapa desain kemasan menarik konsumen.  periset konsumen menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis variable-variable ini.  dari suatu perspektif desain murni, terdapat elemen-elemen penting yang menangkap perhatian konsumen dengan sangat baik dan menerobos kerumunan visual dalam kompetisi retail.  elemen-elemen tersebut adalah :
  • warna
  • Stuktur Fisik atau Bentuk
  • Simbol dan Angka’
  • Tipografi

Sedang untuk membuat desain kemasan yang bisa melayani target pasar yang dituju haruslah memiliki ciri-ciri sbb:
  • Desain kemasan harus sesuai dengan tatanan budaya setempat
  • tatanan bahasa haruslah tepat dan akurat
  • Logis secara Visual
  • Dirancang secara kompetitif

    Kemasan Multifungsi

  • Tampaknya para pengusaha bisa meniru packaging yang satu ini. Kreatif, simpel dan sudah pasti out of the box. Ide awalnya adalah untuk menghemat plastik dan ramah lingkungan. Tidak perlu membuang percuma bungkus kemasan seperti biasanya, sekarang anda dapat memanfaatkan kemasan tersebut sebagai sedotan untuk menikmati kopi anda.
    Coffee Mix Straw dari Nescafe ini dirancang oleh Youngdo Kim. Sejatinya ini adalah kopi instan untuk diminum dingin, tapi saya pikir bisa juga dihidangkan panas. Anda hanya perlu membuka kemasan tersebut, dan kopi yang berada didalamnya akan tertuang ke dalam segelas air. Lalu gunakan kemasan yang sama sebagai alat untuk mengaduk kopi dan sedotan. Kemasan multifungsi untuk menghemat pengeluaran. [ya/timBX]
    taken from blackxperience.com

    Kemasan untuk Export

    Pada umumnya di Indonesia sampai dengan saat ini masih hidup dengan baik desain kemasan yang tradisionil (baik desain grafisnya maupun bahan yang dipergunakan) di samping desain kemas yang modern, yang pembuatannya didasarkan kepada konsep pemikiran yang modern juga. Bila kita masuk ke sebuah toko barang makanan kecil yang menjual makanan kering seperti jenis krupuk, kacang-kacangan, dodol, kueh kering, tauco, oncom, seperti toko-toko yang terdapat di jalan raya bypass kota Cianjur, maka kita akan temukan sebagian besar barang makanan itu dikemas dalam keadaan sederhana, baik bentak maupun grafisnya. Kemasan yang sebagian besar untuk hasil industri rumah ini, rupanya masih punya tempat dan akrab dengan konsumennya.
    Di samping itu di kota-kota besar, terlihat suatu keadaan lain, sebagai hasil perkembangan pasar dan toko setelah tahun 1986 (era orde baru). Seperti kita ketahui roda ekonomi Indonesia mulai bergerak setelah tahun 1966, di mana penanaman modal asing di berbagai bidang, seperti pendirian industri/pabrik, makanan, obat-obatan, pakaian, elektronik, sampai kepada perakitan kendaraan. Pusat-pusat perbelanjaan makin banyak, di samping toko serba ada dan supermaket yang mewah.
    Kehadiran toko-toko mewah ini merangsang lahirnya bentuk kemasan baru dari barang produksi dalam negeri. Sifat penjajaan barang di supermaket yang di antaranya setiap barang harus melayani dan menual dirinya sendiri, mendorong para produsen untuk menciptakan produk dengan kemasan yang sesuai. Barang-barang yang dijajakan di sebuah pasar syawalan akan diletakkan sesuai kelompok jenisnya. Sehingga kita akan mudah mendapat jenis barang tersebut sekaligus dengan berbagai ragam, merek, harga, tanda-niaga, isi, penjelasan dan tawaran cita rasanya. Barang produk tersebut tiba-tiba tenggelam ke dalam satu pertarungan yang sengit untuk dapat memenangkan perhatian pembeli. Pertarungan barang tersebut, adalah pertarungan perancangan bungkusnya, karena itu ini adalah pertarungan ilmu merancang kemasan. Untuk menentukan pilihan konsumen harus aktif. Suasana akan berlainan sekali, bila anda berbelanja di satu warung di pasar Inpres di mana pelayan warung akan mengejar anda dengan berbagai informasi dan menggoda anda untuk membeli barang tersebut; dan anda cukup dengan sikap pasif saja.
    Seiring dengan derap kemajuan ekonomi kita, telah pula dimulai menggiatkan ekspor barang-barang produksi dalam negeri ke berbagai negara. Upaya ini tentunya harus didukung oleh mutu barang dan sekaligus mutu kemasannya yang berwibawa dan berdaya jual. Mengenai perencanaan kemasan ekspor ini dapatlah dicatat beberapa yang seyogyanya layak menjadi bahan pertimbangan bagi para produsen dan perencana grafis Indonesia.
    – Beberapa bentuk kemasan berikut grafisnya dari sebuah barang yang diproduksi untuk pasar luar negeri sebaiknya tidak dibuat sama seperti yang dipasarkan untuk dalam negeri.
    – Peka dan faham terhadap berbagai ragam kebudayaan dunia sangat penting dalam memperhitungkan desain kemas untuk ekspor. Hal ini didasari oleh adanya faktor lingkungan setempat yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh dapat diteliti apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan perencanaan dan konsultan untuk marketing dan komunikasi di San Francisco USA “Walter Landor Asoociates. Perusahaan ini telah mempekerjakan desainer dari berbagai bangsa, sesuai dengan kepentingan perencanaan barang untuk berbagai negara yang dituju seperti Jepang, Itali, Jerman, bahkan Inggris. Kemasan untuk ekspor adalah hal yang sangat khas karena itu sebaiknya ditangani oleh desainer dari negara tujuan ekspor yang bersangkutan dan bekerjasama dengan perencana Indonesia.
    – Lazimnya kemasan yang akan dipasarkan telah melalui hasil riset di atas dan uji lapangan yang mendalam, baik dalam bentuk dan bahan kemasan maupun desain grafisnya, mengingat tingginya fakta perbedaan iklim, bahasa, kemampuan membaca, syarat perdagangan, pajak, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.
    – Setiap barang produk yang akan diekspor, haruslah juga melengkapi desain kemasannya dengan persyaratan kode komputerisasi yang telah dipakai di mana-mana, untuk memudahkan penghitungan harga.
    – Harus pula mempertimbangkan penggunaan unsur simbolisme yang diucapkan melalui bentuk dan warna. Dapat dibayangkan kebijaksanaan bagaimana yang akan diambil, bila akan merencanakan kemasan kita untuk diekspor, muncul masalah warna dan gambar sebagai berikut:
    – Warna “merah”, sangat disukai di Itali, Singapura, Yugoslavia, Meksiko, dan bagi orang Amerika merah adalah warna yang bersih, sedang bagi bangsa Inggris, Chili, Guatemala, Belanda, Venezuela dan Swedia termasuk warna yang kurang disukai.
    – Warna “biru” disukai di Inggris, dianggap warna maskulin di Swedia, tapi feminin di Belanda.
    – Warna “kuning” dan “emas”, disukai sekali oleh negara-negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Filipina, Burma, Ceylon, Singapura dan Hongkong.
    – Warna “hijau”, dianggap sebagai warna yang serasi dan sejuk oleh bangsa Amerika, Iran, Irak, Sudan, Jordania, India, Pakistan, dan bagi bangsa Arab malah dianggap sebagai warna suci yang kurang bijaksana untuk dipakai sebagai warna kemas.
    – Warna “hitam”, hampir semua bangsa seperti Amerika, Afrika Selatan, Tunisia, Afganistan, India, Saudi Arabia, Vietnam, Hongkong, Perancis, Jerman, Denmark, dan Australia merasa kurang cocok, tetapi di Spanyol malah banyak dipakai untuk kemasan makanan.
    Demikian pula mengenai masalah “gambar”,
    – Gambar Harimau, Singa, Naga dan Gajah, disenangi di RRC, Taiwan, dan Hongkong, sedang gambar gajah tidak disukai di Tahiti
    – Bagi Singapura dan Malaysia, mereka kurang dapat menerima gambar ular, babi, sapi dan kura-kura.
    – India anti terhadap gambar sapi dan anjing, tapi suka kepada gambar monyet.
    – Swiss akan peka sekali terhadap bentuk palang merah atau palang putih atas dasar merah.
    – Saran khusus yang penting dihayati oleh para produsen dan pendesain kemasan Indonesia adalah agar menempatkan persoalan pengemasan ini, tidak saja sebagai faktor ekonomis yang berhubungan dengan peningkatan pemasaran barang saja, tetapi juga sebagai faktor kulturil yang membawa citra wibawa bangsa. Suatu contoh yang dapat kita tiru adalah apa yang telah dilakukan oleh Jepang terhadap seni pengemasan barang produk mereka. Seluruh nafas keseni-rupaan Jepang dapat terpancar pada rancangan grafis kemasan barangnya; sebagai sebuah tontonan kesenian. Apakah kita layak mempunyai optimisme ke arah demikian, memang sangat tergantung kepada sikap dan keinginan kita sendiri.
    Demikianlah secara singkat yang dapat disampaikan dalam kesempatan pembicaraan mengenai peranan desain grafis pada kemasan dan pada akhirnya ingin saya tekankan “Bila bentuk kemas itu hanya dapat melindungi isi barang yang dikemas, tapi desain grafisnya akan menjual barang tersebut kepada pembeli”


    Bagaimana Pengaruh Budaya Terhadap Warna Kemasan Suatu Produk?

    Warna merupakan perangsang yang paling penting yang dapat menciptakan suatu daya tarik visual terhadap pelanggan dan ini merupakan bagian yang sangat penting pada suatu kemasan. Penggunaan warna merupakan pusat dari seluruh proses desain kemasan, tapi harus digunakan dengan tujuan yang tepat, bukan semata-mata hanya demi warna.
    Saat memilih warna untuk kemasan suatu produk, pertama-tama haruslah mempertimbangkan prinsip dari persepsi, baru kemudian ditentukan warna produk, pasar dan kondisi penjualan. Warna memerankan bagian yang cukup vital dalam menciptakan citra visual dari sebuah perusahaan, khususnya bila desain melibatkan merek dagang atau logo.
    Manfaat Warna bagi Kemasan
    Keseluruhan maksud dari desain suatu kemasan adalah untuk menarik perhatian masyarakat dan warna merupakan bagian yang penting dalam proses ini. Menurut Danger (1992), beberapa manfaat warna bagi kemasan adalah sebagai berikut:
    · Sasaran pertama dari sebuah kemasan adalah mudah terlihat mata, dan sejauh yang diketahui warnalah yang mencapai poin ini.
    · Kemasan yang baik adalah yang dapat menarik perhatian dan memicu orang untuk membeli; warna dapat merebut perhatian dari orang secara maksimal disertai dengan desain kemasan tentunya.
    · Kemasan sebaiknya memiliki kualitas pengenalan yang maksimal; efek psikologis dari warna akan menjamin bahwa orang mengenali kemasan tersebut bila dipajang.
    · Kemasan tersebut sebaiknya mempengaruhi orang agar tertarik untuk memandangnya dari dekat lalu membelinya, umumnya warna akan menolong dalam menjamin bahwa kemasan tersebut menjual.
    · Kemasan sebaiknya menarik perhatian, warna dapa membantu dalam mencapai poin ini.
    · Warna maupun pengaruh vital untuk menjadikan penjualan.
    · Warna dapat memudahkan tulisan terbaca.
    · Warna membantu mengkoordinir kemasan dan promosi lainnya, khususnya televisi.
    Warna adalah salah satu dari dua unsur yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik pada emosi daripada akal. Orang menyenangi warna dan mereka bereaksi di bawah sadar terhadap warna; suatu pembawaan menyenangi warna merupakan bagian dari kejiwaan manusia. Warna membantu mengurangi hambatan penjualan dan memastikan bahwa desain grafis memiliki daya tarik maksimum; ini merupakan factor vital dalam menciptakan desain grafis yang menjual. Warna mencapai targetnya melalui respon fisiologis, respon psikologis, daya tarik pada indera, daya tarik pada emosi.
    Pengaruh SARA terhadap Warna Kemasan
    Apabila warna pada kemasan tertentu ingin dipasarkan di negara lain, maka perlu dipertimbangkan dengan sangat baik, karena orang dari ras yang berbeda memiliki reaksi yang berbeda terhadap warna. Preferensi warna berbeda untuk setiapnegara dan berkaitan dengan tingkat kecanggihan serta kondisi iklim dan ras. Orang sederhana umumnya menyukai warna yang kuat, mencolok, demikian pula mereka yang tinggal di bawah terik matahari karena warna harus berkompetisi dengan teriknya sinar matahari.
    Orang-orang yang tinggal di daerah beriklim sedang bereaksi lebih baik pada warna sederhana. Adalah bijaksana untuk meneliti setiap negeri dimana kemasan tersebut akan digunakan agar diketahui prasangka dan asosiasi spesifik di negeri tersebut. Banyak prasangka, suka dan ketidaksukaan yang berlaku ada setiap negeri sering merupakan suatu cermin dari ras aslinya, walaupun mereka juga mungkin merupakan suatu cermin dari kehidupan setempat dan kondisi iklim.
    Jika kemasan menyatu dengan ilustrasi rakyat, ini biasanya merupakan ide yang baik untuk menggambarkan rakyatnya, dalam ilustrasi, yang warna kulitnya sama dengan penduduk negeri yang bersangkutan (Danger, 1992). Orang mempunyai prasangka terhadap warna, terutama yang berlatar belakang agama; warna yang digunakan harus menarik mayoritas pembeli. Kombinasi warna yang digunakan penting sekali dan jangan sampai menimbulkan asosiasi yang tidak menyenangkan.
    Daftar Pustaka
    Natadjaja, L. 2002. Pengaruh Komunikasi Visual Antar Budaya Terhadap Pemasaran Produk Ditinjau dari Warna dan Ilurstrasi Desain Komunikasi. http://puslit2.petra.ac.id/

Sumber :kemasan.net 

On Production



Teknik cetak & Reproduksi
Teknik cetak & Reproduksi
Seorang Desainer Grafis harus memiliki pengetahun mengenai teknologi Grafika dari mulai pracetak-cetak hingga pacsa cetak, sehigga dapat menghindari pemakaian elemen desain yang sangat riskan pada teknik cetak, dan sisi baiknya dapat lebih memaksimalkan ide lebih efesiensi dan kreatif.
Teknik cetak yang sering digunakan antara lain :
1.     Cetak Offset (Offset Printing)
2.     Cetak Flexografi (Flexography Printing)
3.     Cetak Rotogravure (Rotogravure Printing)
4.     Cetak Sablon (Screen Printing)
5.     Cetak digital (Digital Printing)
Cetak offset adalah suatu teknik mencetak dengan menggunakan pelat yang datar sebagai acuan cetak.
Berdasarkan cara pemasukan material kertas yang akan di cetak, mesin cetak Offset dapat dibagi dua:
1.     Mesin cetak lembaran (sheet fed) yaitu mesin cetak yang menggunakan kertas lembaran.
2.     Mesin cetak gulungan (Web fed) yaitu mesin cetak yang menggunakan kertas roll/gulung.
Cetak offset sheeted banyak digunakan untuk mencetak pekerjaan seperti majalah, buku, brosure, kalender, poster dll.
Cetak Web offset digunakan untuk mencetak Koran, tabloid, buku atau majalh yang menggunakan kertas yang lebih tipis disbanding cetak sheetfed.
Ciri khas cetak Offset Sheetfed
–       Cocok untuk mencetak diatas kertas dengan berat sekitar 100-270 gram
–       Cocok untuk mencetak dengan jumlah sekitar di atas 1000exp hingga 10.000 exp.
–       Cocok untuk mencetak majalah, buku, brosur dan lainnya dengan kualitas tinggi.
Ciri khas cetak Offset Webfed
–       Cocok untuk mencetak diatas kertas dengan berat sekitar dibawah 100 gram
–       Cocok untuk mencetak jumlah cetak sekitar ratusan ribu exemplar
–       Kecepatan lebih tinggi disbanding cetak dimesin sheetfed
–       Dapat langsung mencetak pada kedua sisi kertas.
Cetak Gravure
Cetak Rotogravure adalah suatu teknik cetak yang menggunakan Silinder sebagai acuan cetaknya, dan sering disebut dengan cetak dalam oleh karena tinta yang berada dibagian dalam image area dialihkan dari Silinder langsung ke media cetak. Pembentukan gambar pada silinder dapat menggunakan teknologi  Laser, Direct Etching atau Engrave Helio, sehingga terbentuk sel kecil dengan kedalaman tertentu. Cetak Gravure banyak digunakan untuk mencetak kemasan permen, rokok, plastic tipis, alumunium foil ataupun flexible packaging.
Ciri-ciri cetak Rotogravure
–       Cocok untuk mencetak diatas plastic tipis, alumunium foil, material transparent atau apaque.
–       Cocok untuk mencetak oplah yang tinggi
–       Cocok untuk mencetak jumlah warna lebih dari 8 warna.
–       Warna lebih konsisten dibandingkan denga teknik cetak lainnya.
Cetak Flexografi adalah suatu teknik cetak yang menggunakan acuan cetak berupa pelat dari karet atau photopolymer. Cetak flexografi dikenal juga sebagai cetak tinggi karena tinta dialihkan dari area cetak yang lebih tinggi ke media cetak. Pemindahan tinta ke pelat cetak melalui rol transfer yang disebut Anilox dan terbuat dari tembaga (Cu) atau keramik. Pemahaman sederhana cetak fleksografi dapat kita lihat pada prose’s pembuatan stempel. Cetak flexografi banyak digunakan untuk mencetak kemasan label, corrugated (karton gelombang).
Ciri khas cetak Flexografi :
–       Cocok untuk material berupa karton gelombang
–       Cocok untuk mencetak dengan jumlah cetak tinggi
Cetak sharing atau screen printing adalah suatu teknik cetak yang menggunakan Silk Screen sebagai acuan cetaknya. Cetak saring dikenal juga sebagai cetak sablon. Cetak sablon ini memiliki kualitas yang bervariasi. Banyak digunakan untuk pencetakan kaos, gelas, seng, mika, plastic, kertas dan lainnya. Saat ini teknologi cetak sablon sudah menerapkan system Computer to Screen, yang dapat menghasilkan kualitas tinggi.
Ciri khas cetak sablon :
Dapat mencetak diatas hampir semua benda padat, seperti gelas, kaca, keramik, aluminium, seng, mika, plastic, kertas dan lainnya. Karena dilakukan manual (kecuali yang sudah menerapkan teknologi Computer To Screen).
Digital Printing
Cetak digital atau Digital Printing adalah suatu taknik cetak tanpa melalui prose’s pembuatan acuan cetak, melainkan melalui prose’s digital atau “any printing completed via digital file. Semua prose’s pencetakan dilakukan dan dikontrol secara digital dan memiliki metode penintaan yang berbeda sesuai teknologi masing-masing. Di Indonesia saat ini istilah digital printing agak rancu karena perusahaan yang mengaku memiliki jasa digital printing didalamnya berbagai
Perencanaan Kemasan
Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang-barang hasil produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Untuk keperluan ini kemasan harus dapat menyandang beberapa fungsi yang harus dimilikinya seperti:
– tempat atau wadah dalam bentuk tertentu dan dapat melindungi barang dari kemungkinan rusak, sejak keluar dari pabrik sampai ke tangan pembeli, bahkan masih dapat digunakan sebagai wadah setelah isi barang habis terpakai, (dalam hal ini wadah tersebut masih menyandang fungsi iklannya).
Kemasan bukan hanya sebuah bungkus, tapi juga pelengkap rumah tangga; sebush botol kecap bagus dengan etiketnya yang menarik dapat menyemarakkan suasana tertentu di meja makan atau lemari di dapur; sebuah tempat kertas lap “Klenex” yang didesain menarik dapat memperindah kamar mandi dan botol parfum yang cantik memberikan kekhasan meja berhias seorang gadis.
– mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadap barang yang dikemasnya (bungkus rokok yang berwibawa).
– kemasan mempunyai kemudahan dalam pemakaiannya (buka, tutup, pegang, bawa) tanpa mengurangi mutu ketahanannya dalam melindungi barang.
– rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis isi barang yang dikemas.
– perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga efisien dan tidak sulit dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, demikian pula penyusunan dalam lemari pajang.
– melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya kemasan berfungsi sebagai alat pemasar untuk mempertinggi daya jual barang. Dalam fungsi ini desain bentuk-kemasan harus mendapat dukungan penuh dari unsur desain-grafisnya, sehingga bentuk kemasan selain menarik harus dapat menyampaikan keterangan dan pesan-pesannya sendiri.
Mengingat konsumen Indonesia yang sebagian besar masih terbatas kemampuan melek hurufnya, maka sampai dengan pertengahan abad ini kita masih melihat bahasa gambar sangat banyak dipergunakan di samping bahasa warna dan huruf. Hal ini, dibuktikan dalam desain-desain merek-dagang, etiket kemasan, serta penggunaan warna untuk memperkuat identitas produk tersebut.
Di samping itu sejalan dengan keterbatasan kemampuan visual dan logika, lahir pula gambar-gambar dan nama-nama sederhana dari benda yang sangat dikenal dalam kehidupan kita sehari-hari, yang oleh industri rokok yang dipilihkan seperti: Djambu Bol, Djeruk, Sapi, Carok, Upet, Pompa, Sugu, Tang, Djarum, Gudang Garam dan sebagainya.
Suatu waktu pabrik rokok kretek Djarum, pernah memproduksi rokok kretek dengan beberapa jenis rasa yang dibedakan dari warna bungkus. Djarum Coklat, Djarum Merah, Djarum Kuning (antara tahun 1950-1960). Semua desain, tipe huruf, dan ukuran sama, kecuali warna dasarnya yang berbeda; jadi di sini ditekankan penggunaan warna. Kemudian, nama-nama aneh muncul dalam gaya seperti ini, sekadar untuk menghindarkan persamaan nama di Lembaga Pencatatan Paten.
Sebuah contoh: Gambar buaya sudah ada pada Lembaga Pencatatan Paten, maka seseorang tidak dapat mempergunakan logo yang sama untuk keperluan desain logo baru. Lalu jalan keluarnya, dia menambahkan kata baru di samping kata buaya, lalu mendaftarkan diri dengan merek “Buaya Gunung”; gambarnya adalah buaya dan gunung (Penelitian Wiyanto, skripsi merek Dagang di Indonesia tahun 1961-1962). Kesederhanaan cara melihat yang berasal dari logika bentuk sering terjadi, karena itu tidak mengherankan bila korek api Jonko ping Tandstick Fabriek, yang bergambar medali atau mata uang di pasar lebih dikenal dan dinamakan “Korek api cap Balon”; apa yang paling segera terlintas difikirkan dan mudah diingat.
Keberhasilan pemasaran suatu barang, tidak hanya ditentukan oleh mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri. –
Untuk kenyataan ini kita kenal filsafat pemasaran yang sudah lazim sejak abad ke 19 di Inggris “the product is the package”, barang produk ditentukan oleh kemasannya sendiri. Kesadaran akan kemasan adalah bahagian yang tak terpisah dari barang produk, sehingga tidak mengherankan bila sebuah biro perencanaan grafis bersikap “Kami tak dapat menaikkan mutu barang produk, karena itu kami tingkatan kemasannya”.
Karena itu mutu lain dari sebuah kemasan dinilai dari kemampuannya dalam memenuhi fungsi, di mana kemasan dituntut untuk memiliki daya tarik yang lebih besar daripada barang yang dibungkus di dalamnya. Keberhasilan daya tarik kemasan ditentukan oleh estetik yang menjadi bahan pertimbangan sejak awal perencanaan bentuk kemasan, karena pada dasarnya nilai estetik harus terkandung dalam keserasian antara bentuk dan penataan desain grafis tanpa melupakan kesan jenis, ciri dan sifat barang yang diproduksi.
Dikerjakan Dengan Mesin Yang Canggih
Alat ini umumnya digunakan untuk kemasan kopi, namun tidak menutup kemungkinan digunakan untuk produk lainnya.
bagi yang belum paham mengenai apa itu valve, one way valve sendiri merupakan alat pengunci aroma (aroma lock) sehingga dari dalam kemasan udara bisa keluar, sedang dari luar udara tidak dapat masuk. dengan berfungsinya sebagai aroma lock, maka kita bisa mencium aroma produk dalam kemasan tanpa merusak, atau membuka segel. keuntungan lainnya adalah udara luar tidak bisa masuk kedalam sehingga produk akan lebih berumur panjang dibandingkan dengan kemasan yang terbuka.
dengan hadirnya valve applicator, maka dengan ini kami sampaikan UKM Indonesia berhak memiliki
kemasan dengan one way valve dengan harga yang terjangkau. Jika selama ini UKM yang menginginkan kemasan dengan ukuran yang dikehendaki harus membeli/ memesan puluhan ribu kemasan, bahkan sampai ratusan ribu kemasan, maka dengan hadirnya valve applicator di AA Packaging House – Malang, maka UKM berhak mendapatkan kemasan yang di idamkan. Tiadak perlu pesan ratusan ribu lembar (yang nota bene menghabiskan dana ratusan juta), jangankan puluhan ribu lembar, atau ribuan lembar apalagi ratusan lembar, selembar-pun (1 kemasan aje) AA Packaging House SIAP melayani UKM Indonesia. Inilah bukti dan dharma Bhakti AA Packaging House untuk kemajuan Negeri Indonesia yang tercinta, khususnya untuk kemajuan UKM Indonesia.Semoga dengan kehadiran Valve Applicator di AA Packaging House, bisa menjadi Baroqah kita semua, terutama UKM yang bergerak di produk Kopi dan turunannya.



Continous Band Sealer

Mesin Pembungkus/mesin Penyegel Kontinyu (Continuous Sealer) adalah salah satu jenis mesin pengemas yang bisa digunakan untuk mengemas aneka jenis bahan kemasan. Mesin ini dapat menyegel plastic film dari berbagai macam bahan plastik seperti PE, PP, PET/PE atau alumunium foil dengan kecepatan yang bisa diatur. Mesin pengemas jenis ini
juga bisa digunakan untuk memberi cetakan tanggal kadaluarsa, kode produksi, atau sesuai dengan keinginan (dengan modifikasi tertentu)
Mesin pembungkus/Penyegel Kontinyu (Continuous Sealer) dapat Anda gunakan untuk mengemas berbagai produk industri kripik buah, snack, camilan, minyak goreng, sabun cair, kopi, pengemasn ikan, dan sebagainya yang dikemas dalam kantong plastik atau Aluminium Foil
Power Supply
220-240V/50-60Hz,1 phase
Power consumption
500 W
Sealing Speed
0-12 m/min
Sealing Width
6-15 mm
Sealing film thickness
0,02-0,80 mm
Temperature range
0-300 0C
Printing letters
1 line 15 letters (with pressing)
Conveyor loading
5 kgs
Machine Size
900 x 480 x 380 mm3
Machine Weight
30 kg



Brand Packing

Banyak cara untuk mengkomunikasikan suatu produk atau jasa dalam kegiatan bisnis, misalnya dengan advertising (periklanan), promosi, personal selling, dll. Banyak pula media yang dapat digunakan, baik yang bersifat Audio, seperti radio, Visual, seperti majalah, bulletin, poster, kemasan produk, dll, maupun yang bersifat Audio Visual seperti televisi, film, pameran, dll. Salah satu dari media komunikasi diatas yaitu pengemasan ( Packaging ).
Ketika seseorang masuk ke supermarket atau hypermarket, selama beberapa menit orang itu menghabiskan waktu mengelilingi rak-rak supermarket, barangkali tidak kurang dari 1000 merek yang dilewatinya begitu saja. Hanya beberapa produk atau merek saja yang menarik perhatian orang itu. Padahal, banyak produk dari berbagai merek yang dipajang, dirancang dan dibuat untuk menarik perhatian dan menawarkan janji kepada orang itu.
Meskipun banyak produk yang serupa, namun yang benar-benar membedakannya adalah nama merek. Nama merek itu pun tidak akan ada artinya apabila tidak didukung oleh visualisasi dari nama itu sendiri yang menarik dan menonjol pada kemasan.
Produsen kini menyadari bahwa kemasan bukan lagi sekedar membungkus dan melindungi produk. Persaingan yang ketat dan sesaknya produk di rak-rak supermarket atau hypermarket memaksa produsen berpikir bahwa selain untuk menarik perhatian konsumen, kemasan mempunyai kekuatan untuk menjelaskan produk dan membantu meningkatkan penjualan. Kemasan kini menjadi media komunikasi. Melalui kemasan produsen dapat berkomunikasi dengan konsumen dan menjelaskan segala sesuatu tentang produk kepada konsumen.
Mengapa kemasan Marlboro berwarna merah ? Menurut penelitian Color Research Institute of Chicago, kemasan merah mempunyai konotasi flavor yang kuat, hijau – seperti yang digunakan Marlboro Menthol – mempunyai konotasi dingin. Sementara itu putih seperti yang banyak digunakan rokok mild, mempunyai konotasi aman. Image tersebut sangat menentukan dalam mengingatkan orang akan suatu brand, terutama saat akan membeli suatu produk.
Kemasan menjadi sangat efektif untuk membuat orang membeli karena kemasan bisa membuat konsumen secara tidak sadar tertarik dan membeli suatu produk. Ketika orang melihat suatu produk dengan kemasan yang bagus, secara spontan muncul emosi. Inilah yang disebut sebagai sensation transference, sebagaimana fungsinya bahwa komunikasi dapat mempengaruhi emosi seseorang. Sekarang konsumen ingin mendapatkan informasi yang lebih baik tentang suatu produk yang akan dibelinya. Konsumen membutuhkan informasi seperti kandungan bahan, nilai kalori, kualitas nutrisi, keamanan, instruksi penggunaan, dan sebagainya. Disinilah kemasan menunjukkan fungsi informasi dari komunikasi.
Kemasan merupakan salah satu factor penting dalam menciptakan dan memelihara asosiasi, image tertentu, dan kualitas produk. Aqua ukuran 250 ml misalnya, desain botolnya anggun dan bahannya yang bening bak kristal menimbulkan image bahwa produk itu premium. Lebih dari itu, kemasan tidak lagi sekedar symbol dari suatu produk tapi juga mengekspresikan suatu identitas, sebagai cermin yang memantulkan kepribadian sebuah produk atau merek. Menurut Harsono Susilo, CEO BedRock Brands Consultants, bahwa sejak awal designer harus menyadari tujuan kemasan dalam konteks dunia komersial ( consumer value ) adalah untuk memberikan identifikasi pengalaman tersendiri sebelum konsumen membeli produk itu. Botol Fanta yang berkontur, menyerupai buah, dan lebih ringan misalnya, mencerminkan identitas anak muda yang fun, friendly, dan exploration.
Kemasan mengatakan banyak hal dan kemasan itu sediri mungkin jauh lebih penting untuk pengenalan kepada konsumen ketimbang nama. Konsumen mungkin benar-benar mengenali suatu produk dari warna, desain dan bentuk. Ia merupakan platform yang perlu terus menerus dimantapkan untuk memperkuat posisi sebuah merek. Kemasan merupakan elemen yang penting dalam pemasaran semua jenis produk. Bisa dibilang, packaging adalah perpanjangan dari promosi. Packaging juga bisa membuat brand awareness ( Top of Mind Brand). Terus-menerus diperbaharui dan desain kemasan yang eye catching merupakan suatu cara untuk memperkuat posisi brand dan membuat menonjol di rak. Ketika mendesain suatu kemasan, designer mempunyai pikiran jauh ke depan yaitu bagaimana caranya ia bisa membuat konsumen terpikat, membeli dan membeli lagi. Kemasan harus bersifat komunikatif dan menjual. Inilah tujuan akhir dari pembuatan brand.