Prinsip Prinsip Desain Kemasan
Ada banyak variable yang mempengaruhi bagaimana dan mengapa desain kemasan menarik konsumen. periset konsumen menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis variable-variable ini. dari suatu perspektif desain murni, terdapat elemen-elemen penting yang menangkap perhatian konsumen dengan sangat baik dan menerobos kerumunan visual dalam kompetisi retail. elemen-elemen tersebut adalah :
- warna
- Stuktur Fisik atau Bentuk
- Simbol dan Angka’
- Tipografi

Sedang untuk membuat desain kemasan yang bisa melayani target pasar yang dituju haruslah memiliki ciri-ciri sbb:
- Desain kemasan harus sesuai dengan tatanan budaya setempat
- tatanan bahasa haruslah tepat dan akurat
- Logis secara Visual
- Dirancang secara kompetitif
Kemasan Multifungsi
-
Tampaknya para pengusaha bisa meniru packaging yang satu ini. Kreatif, simpel dan sudah pasti out of the box. Ide awalnya adalah untuk menghemat plastik dan ramah lingkungan. Tidak perlu membuang percuma bungkus kemasan seperti biasanya, sekarang anda dapat memanfaatkan kemasan tersebut sebagai sedotan untuk menikmati kopi anda.Coffee Mix Straw dari Nescafe ini dirancang oleh Youngdo Kim. Sejatinya ini adalah kopi instan untuk diminum dingin, tapi saya pikir bisa juga dihidangkan panas. Anda hanya perlu membuka kemasan tersebut, dan kopi yang berada didalamnya akan tertuang ke dalam segelas air. Lalu gunakan kemasan yang sama sebagai alat untuk mengaduk kopi dan sedotan. Kemasan multifungsi untuk menghemat pengeluaran. [ya/timBX]taken from blackxperience.com
Kemasan untuk Export
Pada umumnya di Indonesia sampai dengan saat ini masih hidup dengan baik desain kemasan yang tradisionil (baik desain grafisnya maupun bahan yang dipergunakan) di samping desain kemas yang modern, yang pembuatannya didasarkan kepada konsep pemikiran yang modern juga. Bila kita masuk ke sebuah toko barang makanan kecil yang menjual makanan kering seperti jenis krupuk, kacang-kacangan, dodol, kueh kering, tauco, oncom, seperti toko-toko yang terdapat di jalan raya bypass kota Cianjur, maka kita akan temukan sebagian besar barang makanan itu dikemas dalam keadaan sederhana, baik bentak maupun grafisnya. Kemasan yang sebagian besar untuk hasil industri rumah ini, rupanya masih punya tempat dan akrab dengan konsumennya.
Di samping itu di kota-kota besar, terlihat suatu keadaan lain, sebagai hasil perkembangan pasar dan toko setelah tahun 1986 (era orde baru). Seperti kita ketahui roda ekonomi Indonesia mulai bergerak setelah tahun 1966, di mana penanaman modal asing di berbagai bidang, seperti pendirian industri/pabrik, makanan, obat-obatan, pakaian, elektronik, sampai kepada perakitan kendaraan. Pusat-pusat perbelanjaan makin banyak, di samping toko serba ada dan supermaket yang mewah.
Kehadiran toko-toko mewah ini merangsang lahirnya bentuk kemasan baru dari barang produksi dalam negeri. Sifat penjajaan barang di supermaket yang di antaranya setiap barang harus melayani dan menual dirinya sendiri, mendorong para produsen untuk menciptakan produk dengan kemasan yang sesuai. Barang-barang yang dijajakan di sebuah pasar syawalan akan diletakkan sesuai kelompok jenisnya. Sehingga kita akan mudah mendapat jenis barang tersebut sekaligus dengan berbagai ragam, merek, harga, tanda-niaga, isi, penjelasan dan tawaran cita rasanya. Barang produk tersebut tiba-tiba tenggelam ke dalam satu pertarungan yang sengit untuk dapat memenangkan perhatian pembeli. Pertarungan barang tersebut, adalah pertarungan perancangan bungkusnya, karena itu ini adalah pertarungan ilmu merancang kemasan. Untuk menentukan pilihan konsumen harus aktif. Suasana akan berlainan sekali, bila anda berbelanja di satu warung di pasar Inpres di mana pelayan warung akan mengejar anda dengan berbagai informasi dan menggoda anda untuk membeli barang tersebut; dan anda cukup dengan sikap pasif saja.
Seiring dengan derap kemajuan ekonomi kita, telah pula dimulai menggiatkan ekspor barang-barang produksi dalam negeri ke berbagai negara. Upaya ini tentunya harus didukung oleh mutu barang dan sekaligus mutu kemasannya yang berwibawa dan berdaya jual. Mengenai perencanaan kemasan ekspor ini dapatlah dicatat beberapa yang seyogyanya layak menjadi bahan pertimbangan bagi para produsen dan perencana grafis Indonesia.
– Beberapa bentuk kemasan berikut grafisnya dari sebuah barang yang diproduksi untuk pasar luar negeri sebaiknya tidak dibuat sama seperti yang dipasarkan untuk dalam negeri.
– Peka dan faham terhadap berbagai ragam kebudayaan dunia sangat penting dalam memperhitungkan desain kemas untuk ekspor. Hal ini didasari oleh adanya faktor lingkungan setempat yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh dapat diteliti apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan perencanaan dan konsultan untuk marketing dan komunikasi di San Francisco USA “Walter Landor Asoociates. Perusahaan ini telah mempekerjakan desainer dari berbagai bangsa, sesuai dengan kepentingan perencanaan barang untuk berbagai negara yang dituju seperti Jepang, Itali, Jerman, bahkan Inggris. Kemasan untuk ekspor adalah hal yang sangat khas karena itu sebaiknya ditangani oleh desainer dari negara tujuan ekspor yang bersangkutan dan bekerjasama dengan perencana Indonesia.
– Lazimnya kemasan yang akan dipasarkan telah melalui hasil riset di atas dan uji lapangan yang mendalam, baik dalam bentuk dan bahan kemasan maupun desain grafisnya, mengingat tingginya fakta perbedaan iklim, bahasa, kemampuan membaca, syarat perdagangan, pajak, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.
– Setiap barang produk yang akan diekspor, haruslah juga melengkapi desain kemasannya dengan persyaratan kode komputerisasi yang telah dipakai di mana-mana, untuk memudahkan penghitungan harga.
– Harus pula mempertimbangkan penggunaan unsur simbolisme yang diucapkan melalui bentuk dan warna. Dapat dibayangkan kebijaksanaan bagaimana yang akan diambil, bila akan merencanakan kemasan kita untuk diekspor, muncul masalah warna dan gambar sebagai berikut:
– Warna “merah”, sangat disukai di Itali, Singapura, Yugoslavia, Meksiko, dan bagi orang Amerika merah adalah warna yang bersih, sedang bagi bangsa Inggris, Chili, Guatemala, Belanda, Venezuela dan Swedia termasuk warna yang kurang disukai.
– Warna “biru” disukai di Inggris, dianggap warna maskulin di Swedia, tapi feminin di Belanda.
– Warna “kuning” dan “emas”, disukai sekali oleh negara-negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Filipina, Burma, Ceylon, Singapura dan Hongkong.
– Warna “hijau”, dianggap sebagai warna yang serasi dan sejuk oleh bangsa Amerika, Iran, Irak, Sudan, Jordania, India, Pakistan, dan bagi bangsa Arab malah dianggap sebagai warna suci yang kurang bijaksana untuk dipakai sebagai warna kemas.
– Warna “hitam”, hampir semua bangsa seperti Amerika, Afrika Selatan, Tunisia, Afganistan, India, Saudi Arabia, Vietnam, Hongkong, Perancis, Jerman, Denmark, dan Australia merasa kurang cocok, tetapi di Spanyol malah banyak dipakai untuk kemasan makanan.
Demikian pula mengenai masalah “gambar”,
– Gambar Harimau, Singa, Naga dan Gajah, disenangi di RRC, Taiwan, dan Hongkong, sedang gambar gajah tidak disukai di Tahiti
– Bagi Singapura dan Malaysia, mereka kurang dapat menerima gambar ular, babi, sapi dan kura-kura.
– India anti terhadap gambar sapi dan anjing, tapi suka kepada gambar monyet.
– Swiss akan peka sekali terhadap bentuk palang merah atau palang putih atas dasar merah.
– Saran khusus yang penting dihayati oleh para produsen dan pendesain kemasan Indonesia adalah agar menempatkan persoalan pengemasan ini, tidak saja sebagai faktor ekonomis yang berhubungan dengan peningkatan pemasaran barang saja, tetapi juga sebagai faktor kulturil yang membawa citra wibawa bangsa. Suatu contoh yang dapat kita tiru adalah apa yang telah dilakukan oleh Jepang terhadap seni pengemasan barang produk mereka. Seluruh nafas keseni-rupaan Jepang dapat terpancar pada rancangan grafis kemasan barangnya; sebagai sebuah tontonan kesenian. Apakah kita layak mempunyai optimisme ke arah demikian, memang sangat tergantung kepada sikap dan keinginan kita sendiri.
Demikianlah secara singkat yang dapat disampaikan dalam kesempatan pembicaraan mengenai peranan desain grafis pada kemasan dan pada akhirnya ingin saya tekankan “Bila bentuk kemas itu hanya dapat melindungi isi barang yang dikemas, tapi desain grafisnya akan menjual barang tersebut kepada pembeli”
Bagaimana Pengaruh Budaya Terhadap Warna Kemasan Suatu Produk?
Warna merupakan perangsang yang paling penting yang dapat menciptakan suatu daya tarik visual terhadap pelanggan dan ini merupakan bagian yang sangat penting pada suatu kemasan. Penggunaan warna merupakan pusat dari seluruh proses desain kemasan, tapi harus digunakan dengan tujuan yang tepat, bukan semata-mata hanya demi warna.Saat memilih warna untuk kemasan suatu produk, pertama-tama haruslah mempertimbangkan prinsip dari persepsi, baru kemudian ditentukan warna produk, pasar dan kondisi penjualan. Warna memerankan bagian yang cukup vital dalam menciptakan citra visual dari sebuah perusahaan, khususnya bila desain melibatkan merek dagang atau logo.
Manfaat Warna bagi Kemasan
Keseluruhan maksud dari desain suatu kemasan adalah untuk menarik perhatian masyarakat dan warna merupakan bagian yang penting dalam proses ini. Menurut Danger (1992), beberapa manfaat warna bagi kemasan adalah sebagai berikut:
· Sasaran pertama dari sebuah kemasan adalah mudah terlihat mata, dan sejauh yang diketahui warnalah yang mencapai poin ini.
· Kemasan yang baik adalah yang dapat menarik perhatian dan memicu orang untuk membeli; warna dapat merebut perhatian dari orang secara maksimal disertai dengan desain kemasan tentunya.
· Kemasan sebaiknya memiliki kualitas pengenalan yang maksimal; efek psikologis dari warna akan menjamin bahwa orang mengenali kemasan tersebut bila dipajang.
· Kemasan tersebut sebaiknya mempengaruhi orang agar tertarik untuk memandangnya dari dekat lalu membelinya, umumnya warna akan menolong dalam menjamin bahwa kemasan tersebut menjual.
· Kemasan sebaiknya menarik perhatian, warna dapa membantu dalam mencapai poin ini.
· Warna maupun pengaruh vital untuk menjadikan penjualan.
· Warna dapat memudahkan tulisan terbaca.
· Warna membantu mengkoordinir kemasan dan promosi lainnya, khususnya televisi.
Warna adalah salah satu dari dua unsur yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik pada emosi daripada akal. Orang menyenangi warna dan mereka bereaksi di bawah sadar terhadap warna; suatu pembawaan menyenangi warna merupakan bagian dari kejiwaan manusia. Warna membantu mengurangi hambatan penjualan dan memastikan bahwa desain grafis memiliki daya tarik maksimum; ini merupakan factor vital dalam menciptakan desain grafis yang menjual. Warna mencapai targetnya melalui respon fisiologis, respon psikologis, daya tarik pada indera, daya tarik pada emosi.
Pengaruh SARA terhadap Warna Kemasan
Apabila warna pada kemasan tertentu ingin dipasarkan di negara lain, maka perlu dipertimbangkan dengan sangat baik, karena orang dari ras yang berbeda memiliki reaksi yang berbeda terhadap warna. Preferensi warna berbeda untuk setiapnegara dan berkaitan dengan tingkat kecanggihan serta kondisi iklim dan ras. Orang sederhana umumnya menyukai warna yang kuat, mencolok, demikian pula mereka yang tinggal di bawah terik matahari karena warna harus berkompetisi dengan teriknya sinar matahari.
Orang-orang yang tinggal di daerah beriklim sedang bereaksi lebih baik pada warna sederhana. Adalah bijaksana untuk meneliti setiap negeri dimana kemasan tersebut akan digunakan agar diketahui prasangka dan asosiasi spesifik di negeri tersebut. Banyak prasangka, suka dan ketidaksukaan yang berlaku ada setiap negeri sering merupakan suatu cermin dari ras aslinya, walaupun mereka juga mungkin merupakan suatu cermin dari kehidupan setempat dan kondisi iklim.
Jika kemasan menyatu dengan ilustrasi rakyat, ini biasanya merupakan ide yang baik untuk menggambarkan rakyatnya, dalam ilustrasi, yang warna kulitnya sama dengan penduduk negeri yang bersangkutan (Danger, 1992). Orang mempunyai prasangka terhadap warna, terutama yang berlatar belakang agama; warna yang digunakan harus menarik mayoritas pembeli. Kombinasi warna yang digunakan penting sekali dan jangan sampai menimbulkan asosiasi yang tidak menyenangkan.
Daftar Pustaka
Natadjaja, L. 2002. Pengaruh Komunikasi Visual Antar Budaya Terhadap Pemasaran Produk Ditinjau dari Warna dan Ilurstrasi Desain Komunikasi. http://puslit2.petra.ac.id/
Sumber :kemasan.net


Tidak ada komentar:
Posting Komentar